Langsung ke konten utama

Postingan

Berjarak Agar Tetap Berdetak..

Sudah seminggu ini lamanya gue kerja dari rumah atau Working From Home (WFH). Cepatnya penyebaran virus Covid-19 ini membuat gue terpaksa harus mengurung diri di rumah alias melakukan social distancing.  Diantara jutaan manusia di luar sana, gue termasuk beruntung. Iya, beruntung aja. Kondisi gue yang lagi hamil besar menjadi penyelamatnya. Tapi gak juga. Di sisi lain gue tetep khawatir. Khawatir jika virus brengsek ini berhasil masuk ke badan gue. Makanya gue berusaha sekali menjaga semuanya agar baik-baik saja.  Setiap menit, setiap jam, setiap hari, gue menyaksikan bertambahnya jumlah orang yang meninggal dan terinfeksi virus ini. Sedih? Iya. Takut? Apalagi. Tapi, sebagai warga negara yang baik, patuh dan membayar pajak, gue cuma bisa menjalankan himbauan pemerintah untuk #dirumahaja, sembari terus berdoa ini cepat berlalu. Berkali-kali gue membaca pesan di handphone dari para rekan dan sahabat, semua sama: kami semua rindu. Rindu suasana kantor, rindu berdesa...

Jadi Begini,

Menikah itu berat. Sejak zaman Prabu Siliwangi memerintah di Kerajaan Pajajaran pada 1443 Masehi, semua juga udah paham hal itu. Makanya gue suka "amaze", kok ada ya golongan manusia yang dikit-dikit ngeluh "Capek kerja, mau nikah aja", itu gimana ya maksudnya? Gue (kebetulan) menikah di usia 26 tahun. Kenapa kebetulan? Jangan mikir gue (amit-amit) hamil duluan, jangaaan ya. Gue menikah di usia yang mungkin terbilang masih tahap wajar ( kalo kata netijen, padahal ga ada kata terlambat untuk menikah kalo kata gue ). Padahal dalam timeline gue, targetnya gue pengen nikah di usia 28-29 tahun. Gue pengen menikah ketika udah selesai dengan diri sendiri. Tapi ternyata makin ke sini gue sadar, pasangan gue inilah yang ternyata membantu untuk pelan-pelan selesai dengan diri sendiri. Karena pada saat kita sudah menikah, tanggung jawab baru yang lebih besar sudah menanti di depan mata. Balik ke topik kenapa menikah itu berat, makanya ada banyak hal yang harus j...

Kepada Sepasang Mata

Sebelumnya saya pernah terjatuh dalam sorotan sepasang mata yang dalam.  Saya pikir, itu satu-satunya sorot mata yang paling dalam yang pernah saya tatap seumur hidup saya. Ternyata saya salah.  Ada sorot mata lainnya. Tidak dalam, tapi justru dia terlihat lelah. Kosong. Bahkan bingung.  Dalam sepasang matanya, saya tahu betul ia sedang menyimpan sebuah luka. Luka lama yang sudah tidak mau lagi ia buka. Saya seakan paham bagaimana pedihnya. Tapi dia berusaha tertawa.  Sekarang saya percaya bahwa mata adalah jendela jiwa. Tapi tidak semua jendela itu terbuka. Beberapa orang memilih untuk menutupnya rapat-rapat. Sampai ia yakin ada tamu yang tepat, yang bisa membukanya. Dan saya percaya, dia akan menemukannya. 

(Mencoba) Berdamai Sama Jam Biologis yang Gak Logis

Setiap makhluk hidup perlu beradaptasi. Seperti yang pernah kita pelajari saat bangku SD, adapun tujuan makhluk hidup beradaptasi adalah agar bisa mengatasi tekanan dan bisa bertahan hidup di lingkungannya.  Jadi, kurang lebih hampir tiga tahun lamanya gue terbiasa dengan jam kerja macam Pegawai Negeri Sipil (PNS) yakni dari jam 9-5 sore. Jarang lho, jam kerja di media bisa seteratur ini. Itu karena kerjaan gue saat itu adalah nge-handle internal media sebuah perusahaan telekomunikasi, otomatis jam kerja gue ngikutin jam kerja mereka. Berangkat pagi bareng pak suami, makan siang jam 12, pulang jam 5. Begitu terus selama tiga tahun belakangan.  Semua baik-baik saja sampai suatu hari gue memutuskan untuk melepaskan "my comfort zone". Ya namanya hidup, kadang kita butuh sebuah tantangan biar gak ngebosenin (tapi giliran dikasi tantangan, malah ngeluh bahkan nangis-nangis. Hahaha siapa eeaa?) Setiap memulai sesuatu kebiasaan yang baru, tentu gak semudah itu, Fer...

Jangan Percaya Pada Perpisahan

Saya percaya, tidak ada yang sebenar-benarnya perpisahan di dalam hidup ini. Yang ada hanya kita tidak bertemu, berinteraksi, berdiskusi, bekerja, tertawa bahkan bertengkar lagi setiap hari. Makanya, jangan percaya pada sebuah perpisahan.  Terima kasih untuk perjalanan tiga tahunnya yang sangat menyenangkan. Semoga kalian nanti juga menemukan haluannya masing-masing. Sebab hidup terlalu hambar kalau tidak keluar dari zona nyaman, bukan? -Meutia-

Dear Ed Sheeran, You Look Perfect Tonight

Kalo sebagian orang punya cita-cita pengen jadi dokter, pengacara, horang kaya, atau kerja di start up, kayaknya itu gak berlaku buat gue. Cita-cita dalam hidup gue cuma dua: pengen nyaksiin live concert Coldplay dan Ed Sheeran. Udah itu aja. Dua tahun lalu, gue berkesempatan menyaksikan langsung Chris Martin dkk pecicilan gegulingan di atas panggung. Konsernya gak di Jakarta, tapi di negeri tetangga yaitu Singapura. Berangkat kesana dengan penuh kerempongan sebenarnya. Tapi akhirnya gue bahagia kayak mau nangis udah bisa ngeliat penampilan langsung band idaman gue sejak zaman Majapahit ini. Abis nonton Coldplay itu rasanya kayak one of the biggest achievement in my lyfe aja gitu ~ Pulang dari sana, hidup gue kembali berjalan seperti biasa. Kerja, patah hati, pacaran, kerja lagi, sampe suatu hari gue mendapatkan berita kalo Ed Sheeran bakal manggung di Jakarta pada 9 November 2017. Karena waktu itu gue lagi banyak banget pengeluaran, akhirnya gue harus logis gak maksain diri ...

Hidup Minimalis: Menyederhanakan Keinginan, Memperbanyak Menebar Kebaikan

Gue terlahir sebagai perempuan yang impulsif. Yang gak terlalu memikirkan konsekuensi dari setiap tindakan yang diambil. Apakah itu menjadi sebuah kekurangan? Gak juga sih. Ada untungnya juga lho mempunyai sifat ini. Gue jadi gak perlu mikir lama-lama kalo mau mutusin sesuatu. Gak ribet ini itu. Iyain aja dulu. Masalah resiko itu belakangan. Lagian, what is life if not a gamble ? #Pembelaan Sifat impulsif itu juga kebawa kalo lagi belanja. Sebagai manusia yang penuh dengan khilaf dan lemah iman, gue dulu suka berbelanja sesuatu yang gue anggep "lucu, imut, atau beli dulu deh karena masih belum punya warna atau model begini". Yang gue pikirin saat iti adalah gue harus punya. Pokoknya, kalo ke mall pulang tanpa nenteng sesuatu itu rasanya kayak ada yang kurang. Sama kayak kalo abis keluar dari aplikasi e-commerce tanpa ada barang yang di-check out, rasanya ngeganjel aja gitu di hati~ Ketika gue belum punya lipstick merk X, gue beli. Ternyata pas dicek lagi, gue punya ...