Langsung ke konten utama

Postingan

Meutia Kepada Meutia

Halo Meut, apa kabar?  Lama gak cerita-cerita di blog ini, saking lamanya tau-tau proyek underpass mampang yang macetnya bikin gila itu udah kelar aja. Dan seperti tebakan gue, underpass yang didesain 'futuristik' itu mulai dibanjiri anak-anak hypebeast yang foto-foto di sana. Huh!! Ngomong-ngomong, ada banyak hal yang sudah gue lewati selama beberapa bulan belakangan ini. Bahkan saking banyaknya gue sampe bingung mau menceritakan hal yang mana. Kita mulai aja ya.  Mungkin hal pertama yang masih membekas dari ingatan gue adalah kepindahan salah seorang sahabat gue yang ikut suaminya ke kota lain beberapa waktu lalu. Bisa dibilang perempuan ini yang menjadi tempat gue menumpahkan semua unek-unek gue setiap hari. Dia menjadi salah seorang yang berjasa besar membuat gue bisa seperti sekarang. Hahaha. Dia gak tau aja gimana gue nangis-nangis di kosan karena harus pisah sama dia. Tapi dia bilang ke gue "Lo cuma kehilangan satu, gue kehilangan 12 orang sekaligus...

Tenggelam dalam Novel & Film Laut Bercerita

Ini bukan resensi film. Bukan juga resensi novel. Gue sama sekali gak mahir dalam kedua hal itu. Bukannya gak mau nyoba, tapi takut nanti kalah saing sama blog seorang kawan yang juga rajin mengulas resensi film dengan gaya khasnya yang kocak.  Yang mau gue ceritain adalah pengalaman gue hanyut dan tenggelam dalam lautan air mata (ini seriusss) oleh sebuah novel bikinan Ibu Leila Chudori, yang juga difilmkan secara apik oleh sutradara Pritagita Arianegara.  Hal yang pertama yang mau gue ceritain adalah tentang bagaimana gue jatuh cinta pada pandangan pertama dengan novel ini. Sejujurnya, gue adalah tipe pembaca yang suka menilai buku dari covernya. Karena gue percaya, seorang penulis hebat akan sangat total dalam menghasilkan sebuah karya. Bagaimana mungkin seorang penulis yang sudah susah payah menyusun sebuah cerita dari perkenalan-konflik awal-konflik makin serius- klimaks-antiklimaks- dan resolusi sedemikian rupa, tapi covernya didesain seadanya. Gue percaya, penul...

Yang Datang dan Yang Pergi

Ada yang datang cuma sekedar untuk menguji Ada yang datang hanya untuk menyakiti Ada yang datang dengan sumpah dan caci maki Ada yang dulunya mengasihi dan kini membenci Ada yang kini merasa sepi dan sunyi Ada yang menyesali yang telah terjadi Ada pula yang tak sempat memiliki Ada yang pergi dan mati Di kotaku, sesudah hujan di siang itu. Foto: Meutia Febrina

Perempuan-Perempuan Sebelum Saya

Nama saya Safira. Saya suka pakai lipstick warna merah. Saya benci potongan pare di dalam sepiring somay. Itu merusak cita rasa. Usia saya 32 tahun kurang 5 hari. Kata ibu saya, saya orangnya keras kepala dan egois tapi saya setia. Iya, setia.  12 Agustus 2014, saya berkenalan dengan Aji. Dia senang melihat alis saya. Rapih dan tebal, kata Aji. Saya (mungkin) adalah perempuan terakhir dalam hidup Aji, karena kami berencana akan menikah tahun ini. Suatu malam, di rooftop sebuah kafe di sudut Jakarta, Aji mengutarakan sebuah pengakuan yang mengejutkan kepada saya. Ia menceritakan daftar perempuan-perempuan yang pernah ia kenal, sampai akhirnya ia memilih berhenti di saya.  Tiara Perempuan dengan fashion nyentrik dan mengenakan hijab. Ia bekerja di salah satu salah satu multinasional company di Jakarta. Usianya 28 tahun. Tiara merupakan tipikal perempuan kebanyakan lone ranger di Jakarta. Mandiri, tangguh, realistis, dan salah satu penganut paham hedonisme. Aji meng...

Belajar Hidup Sederhana Hingga ke Kaki Gunung Cikuray

Hidup itu sebenarnya murah, yang bikin mahal adalah biaya gengsinya. Beli handphone baru padahal yang lama masih berfungsi dengan baik hanya karena gak mau ketinggalan zaman. Beli baju di toko impor terus di -upload  ke sosmed biar netyzen tau kalo dia abis belanja di sana. Nongkrong di coffeshop mahal terus lagi-lagi di- upload ke sosmed biar dikata asyique. Liburan tiap bulan demi mempercantik feeds instagram padahal liburannya ngutang. Sungguh ironi. Makin kesini, gue makin berpikir apakah uang benar-benar bisa bikin kita bahagia? Bukankah rasa cukup dan bersyukur adalah awal dari kebahagiaan itu sendiri? Ketika gue punya uang, gue belanja ini itu awalnya gue emang merasa senang. Tapi udahannya gue nyesel , kenapa tadi gue beli ini barang ya ? Padahal gue masih punya dan kondisinya masih bagus. Abisannya tinggal gue mengutuk dan menyesali diri gue di pojokan kamar.  Kata orang, belajar bisa dari siapa aja . Gak harus sama profesor, guru besar, i...

Menuju Satu Frekuensi :)

Tuhan, sudah habis kata-kataku untuk meminta. Kini aku hanya ingin berterima-kasih saja - R

Saya 212, Terus Kalian Mau Apa?

Saya 212. Dari lahir saya ditakdirkan menjadi 212. Saya tidak pernah menyesali kalau saya 212. Mau orang ngomong apapun tentang 212 saya gak peduli. Mau orang mencaci saya karena saya 212, saya bodo amat. Saya akan tetap 212. Dalam darah saya mengalir 212. Setiap detak jantung saya adalah 212. Setiap nafas saya adalah 212. Saya 212 sampai mati lah pokoknya. Terus kalian mau apa? Iya, saya 212 karena ulangtahun saya 21 Februari alias 212. Bukan 212 yang lagi ribut-ribut di sebelah sana ya. Selamat ulangtahun untuk saya. Hehehe... Ps: Sekali-sekali bikin judul yang clickbait karena pengen liat reaksi netyzen~ https://www.thepublicopinion.com/